Jumat, 02 Mei 2014

Catatan Buat ANAS: "Jika Benar Beriman, Mengapa Takut Kepada Mereka Yang Sesat?"

Aliansi Nasional Anti Syiah - ANAS bukan nama orang, ia adalah akronim dari Aliansi Nasional Anti Syiah. Itulah nama baru kelompok takfiri yang bergerombol di salah satu mesjid kecil di sebuah lorong di kota Bandung 20 April lalu. Mereka meneriakkan kebencian, bahkan ajakan membunuh sesama muslim. Ismail Amin, salah seorang alumni Wahdah Islamiyah Makassar yang sekarang belajar di Iran, memberikan catatan kritis atas aksi sekelompok orang yang mencatut nama Islam.

Saya yakin Muhammad Ngaenan masih memendam rasa sakit. Bukan karena pinggangnya masih sakit karena ditendang-tendang. Bukan juga karena dianiaya, dia sudah sadar akan tugas yang diembannya mengharuskan ia suatu waktu merelakan tubuhnya dikeroyok, dihujani bogem mentah, bahkan sampai dibunuh sekalipun.  Ia sakit hati karena yang melakukannya adalah orang-orang yang justru seharusnya menjadi penjaga dan penghias agama ini. Ia sakit hati, karena dikeroyok dan diperlakukan layaknya kriminil didepan mata mereka yang memperkenalkan diri kepada ummat sebagai ulama dan intelektual islam. Hatinya remuk redam karena bukan pembelaan yang didapatnya, tapi dipersalahkan karena cara yang berbeda yang dipilihnya dalam menjalankan Islam.

Betapa menggelikan, ketika ia menulis dalam ceritanya, ketika diseret dan hendak dipukuli, sang pengeroyok berkata, ““Jangan ganggu rapat para ulama, kita bawa saja ke samping.”  Rapat ulama? Apa yang dibicarakan para ulama yang tidak boleh diganggu itu?. Ulama yang membenarkan pemukulan dan penganiayaan hanya karena pilihan yang berbeda, itu yang disebut mewakili ummat dan pembicaraannya adalah demi masa depan ummat dan dakwah Islam yang mereka usung?.

Masa depan apa yang hendak mereka ciptakan? Masa depan yang penuh teror dan permusuhan pada sesama muslim, dan kegirangan kalau semua ummat satu pemikiran dengan apapun yang menjadi pendapatnya?. Hari itu, para ulama yang sedang rapat itu, baru saja mendeklarasikan Aliansi Nasional Anti Syiah. Aliansi yang telah memakan korban sejak hari pertama pendeklarasiannya.

Ngaenan hanyalah seorang pemburu berita, seorang wartawan, yang sayangnya bekerja untuk situs berita Ahlul Bait Indonesia [ABI] salah satu ormas Syiah di samping IJABI. Jadilah pengeroyokan tersebut menjadi luar biasa. Seorang pemburu berita dikerumuni, ditendang dan dipukuli laskar pemburu aliran sesat. Para pemburu tersebut tanpa perlu berburu, mangsanya yang datang sendiri di sarang mereka. Bukankah ini pertolongan Tuhan yang harus disyukuri habis-habisan?.

Salahkah berburu berita?. Bukankah mereka seharusnya berterimakasih pada siapapun yang meliput dan memberitakan kegiatan mereka?. Undangan yang disebar konon sampai 9 ribu pucuk, termasuk para delegator yang berasal dari beragam daerah [meskipun yang hadir pada akhirnya tidak sampai seribu]. Dan tentu memakan ongkos yang tidak sedikit. Tentu sayang, kalau kegiatan yang diklaim berskala nasional [meskipun cuma dilakukan di masjid tingkat RW] tersebut tidak mendapat liputan besar-besaran. Dan ABIpun mengutus wartawannya, untuk membantu pempublikasiannya. Tapi apa yang didapat?. Ngaenan sendiri yang langsung menulis kisah pilunya di hari Minggu.

Coba bandingkan, dengan kegiatan-kegiatan ormas-ormas dan yayasan Syiah. Wartawan dari kalangan manapun diberi keleluasan sebesar-besarnya untuk meliput kegiatan mereka. Wartawan Trans 7, yang membuat acara Khazanah yang menyudutkan Syiah, dengan santai dan tanpa gangguan apapun menghadang peserta yang menghadiri acara Seminar Internasional Idul Ghadir yang diselenggarakan IJABI di Jakarta oktober 2013 lalu untuk mereka wawancarai. Meskipun pada akhirnya berita yang mereka buat justru menyudutkan Syiah. Jangankan sekedar meliput berita, kelompok anti Syiah juga malah dibiarkan berdemonstrasi dan berunjuk rasa menolak terselenggaranya acara-acara Syiah, dan panitia dibantu keamanan merasa tidak perlu mengusir atau membuat demo tandingan. Tidak jarang, para demonstran tersebut malah disuguhi air kemasan oleh panitia. Teman yang aktif di IJABI Makassar malah menceritakan, ketika tahu diantara yang hadir dalam acara Asyura mereka adalah wartawan LPPI Makassar, dia malah mendatangi, memberi 1 kotak makanan plus bulletin al Tanwir.

Mengapa mereka begitu ketakutan ketika giliran acara mereka yang diliput?. Mengapa sampai harus menganiaya dan mengeroyok segala?. Dari situs berita Liputan Islam. Di Bogor malah pernah berlangsung bedah buku MUI yang berlangsung secara rahasia dan esklusif. Oleh panitia, para peserta dilarang meliput, merekam atau mengambil gambar sepanjang acara berlangsung. Bukan hanya itu, dibanyak acara mereka yang bertujuan memprovokasi masyarakat untuk membenci dan memusuhi Syiah, tidak dihadirkan seorangpun tokoh dari kalangan Syiah sebagai pembicara, kalaupun ada, dihadirkan tapi dilarang untuk berbicara dengan beragam alasan yang dibuat-buat sebagaimana kasus yang menimpa Habib DR. Umar Shahab, dewan pakar ABI yang diundang disebuah acara seminar sebagai pembicara, namun tidak diberi kesempatan untuk berbicara. Ketika akhirnya beliau memilih pulang, besoknya naik berita dari pihak penyelenggara yang menyebutkan, beliau pengecut dan melarikan diri dari seminar.

Satu hal yang ingin saya sampaikan. Sunni sejati tidak akan pernah mengkhawatirkan perkembangan Syiah, tidak pernah takut dengan menyebarnya aliran-aliran sesat, sedasyhat apapun. Pernahkah pembesar-pembesar NU dan Muhammadiyah (dua ormas yang paling representatif mewakili Sunni Indonesia) menyatakan kekhawatiran akan perkembangan Syiah di Indonesia? Jawabannya: TIDAK. Tentu kewaspadaan tetap ada, tapi tidak mesti diekspresikan berlebihan. Sampai sedemikian takutnya kalau pendiri IJABI yang jadi menteri agama.

Bandingkan dengan mereka yang phobia Syiah. Masih minoritas saja Syiah sudah begitu sangat menakutkan bagi mereka. Main hasud, main sembur fitnah, main rekayasa berita. Main tuding, siapapun yang membela dan simpatik pada Syiah, sudah diklaim agen Syiah.

Ini rumusnya dari Al-Qur'an :

"Wahai-wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu apabila kamu telah mendapat petunjuk." (Qs. Al-Maidah : 105).

Sebut saja Syiah sesat. Nah kesesatan Syiah tidak akan membahayakan bagi orang-orang yang beriman. Ini janji Allah SWT. Syaratnya, jika orang-orang beriman tersebut telah mendapat petunjuk.

Nah, jika Abu Jibril, Said Shamad, Zein al Kaff, Farid Okbah, Khalil Ridwan, Ma’ruf Baharun dan seterusnya masih menganggap Syiah berbahaya, maka satu jawabannya: ITU KARENA MEREKA BELUM MENDAPAT PETUNJUK SAJA.

Wallahu ‘alam Bishshawwab

Sumber : LPPI MAKASSAR
Share:

3 komentar:


  1. Bismillahir Rahmanir Rahmanirahim

    https://keep.line.me/s/FBZtesmFRzXU8lAAY_0gzZCzyGsD1CyHSc8T7p9w7a0

    Salam dan renungan

    Web: almawaddah.info

    Kepada;

    Yang dihormati Para rektor universiti, para akademik dan para mufti.

    Tun, Tan Seri/Datuk Seri/Datin Seri/Datuk/Datin/tuan/puan.

    Perkara: "Akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah yang bertentangan dengan al-Qur'an dan ayat-ayat al-Qur'an yang bertentangan dengan akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah" sebagai kajian dan renungan. Diambil dari web: almawaddah.info

    1. Tidakkah al-Qur'an itu asas agama Islam yang diredai oleh Allah dan Rasul-Nya?

    2. Tidakkah Islam itu rahmatan lil Alamin?

    Terima kasih dan 'afwan.

    Daripada;

    Pencinta al-Qur'an sebagai asas agama Islam di Malaysia.







    .....

    BalasHapus
  2. Bismillahir Rahmanir Rahim

    Salam dan selawat

    Kepada:

    Mahasiswa
    Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Indonesia.

    Pertanyaan mahasiswa: Adakah kalian bersetuju semua sahabat itu sesat kecuali 3 orang: Miqdad bin Aswad, Abu Dzar dan Salman al-Farisi menurut sumber Syiah?

    Jawapan 1.

    Al-Qur'an sebagai asas agama Islam

    Sesat atau kafirnya seorang muslim termasuk sahabat, adalah terletak kepada sejauh mana mereka percaya dan menghayati ajaran al-Qur'an dalam kehidupan mereka.

    Jawapan 2

    Sunnah Nabi saw sebagai asas agama Islam selepas al- Qur'an.

    2. Sejauh mana mereka percaya dan menghayati Sunnah Nabi saw dalam kehidupan mereka.

    Jawapan 3

    3.Justeru, ia bukan soal kalian bersetuju atau pun tidak dengan seorang itu sesat atau kafir kerana ia berkait rapat dengan sistem nilai yang diakui oleh Allah dan Rasul-Nya.

    Jawapan 4

    4. Sumber Sunni tentang kesesatan atau kekafiran majoriti para sahabat Nabi saw selepas kewafatan Nabi saw kerana mereka telah mengubah Sunnah Nabi saw, boleh didapati dalam Sahih al- Bukhari, Kitab al-Riqaq, bab al- Haudh, hadis ,584, 585,586, dan 587.
    Hadis 587 menyatakan bahawa mereka (sahabat) telah murtad ke belakang. Justeru, aku tidak melihat mereka (sahabat) terselamat melainkan segelintir daripada mereka (bilangan yang sedikit) seperti unta yang tersesat atau terbiar daripada pengembalanya (mithlu humali nna'am).

    Jawapan 5

    5. Sahih Muslim, bab Ithbat Haudhi Nabiyyi-na menyatakan bahawa hanya sedikit sahaja sahabat yang selamat kerana mereka telah mengubah Sunnah Nabi saw. Lihat, hadis no. 26, (2290), (2291), no. 27 (2293), 28, (2294), 32 (2297), 40 (2304).

    Hadis no. 29 (2295) " Sesungguhnya aku akan mendahului kamu di Haudh. Tidak ada seorang pun daripada kamu (para sahabatku) akan mendatangiku sehingga dia akan dihalau atau diusir daripadaku sebagaimana dihalau atau diusir unta yang sesat (bilangan yang sedikit).
    Aku bersabda: Apa salahnya? Sesungguhnya anda tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh mereka selepas anda meninggalkan mereka. Jauh! Dari rahamat Tuhan (suhqan).

    Jawapan 6

    Al-Qur'an

    6. Hanya sedikit sahaja di kalangan orang Islam yang mengikut al-Qur'an 100% sebagaimana Firman-Nya Surah al-Saba' (34): 13 " dan sedikit sahaja di kalangan hamba-hamba-Ku yang berterima kasih". Ini bererti kebanyakan orang-orang Islam sama ada sahabat atau bukan sahabat sedikit sahaja yang berterima kasih. Justeru, mereka disiksa oleh Allah swt kerana tidak berterima kasih.

    Jawapan 7

    7. Sila baca teks Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim tentang kekafiran majoriti para sahabat kerana mereka telah mengubah Sunnah Nabi saw. Justeru, ia menyalahi akidah Ahli Sunnah Wal Jamaah yang percaya semua sahabat adalah adil.

    Jawapan 8

    8. Kekafiran majoriti para sahabat selepas kewafatan Nabi saw sengaja disembunyikan oleh para ulama Ahli Sunnah Wal-Jamaah dan Wahabi di Nusantara. Mereka meninggalkan penerjemahan bab al- Haudh dari Sahih Bukhari dan Sahih Muslim ke dalam bahasa ibunda. Justeru, umat Islam di Nusantara tidak mengetahuinya, lalu mereka menuduh Syiah mengkafirkan para sahabat Nabi saw pula. Pada hakikatnya, Nabi saw sendiri yang telah mengkafirkan majoriti para sahabatnya kerana mereka telah menguban Sunnahnya menurut Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

    Jawapan 9

    9. Sila lihat, renungan 92. "Pengubahan al-Qur'an (Tahrif al-Qur'an) dalam buku-buku Sunni, Pengubahan Sunnah Rasulullah saw, penghinaan terhadap Rasulullah saw oleh para sahabat dan kekafiran majoriti para sahabat oleh Rasulullah saw sendiri" sila layari: al-mawaddah. info






    BalasHapus


  3. Bismillahir Rahmanir Rahim

    https://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWQXF6VWJRNkdZYmdMS25Da2NkRkU1YjVaLWRz/view?usp=drivesdk

    Salam

    Kepada;

    Para rektor, para akademik, para agamawan dan para mahasiswa yang dikasihi.

    Tuan,

    Tajuk: "Pengubahan al-Qur'an, pengubahan Sunnah Nabi saw, penghinaan terhadap Nabi saw dan kekafiran majoriti dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim".

    Tajuk- tajuk tersebut adalah untuk kajian dan renungan para akademik, para agamawan dan para mahasiswa yang dicintai. Apa salahnya kita tahu kerana bukan semua yang kita tahu itu mesti kita percayai atau kita mengamalkannya pula.

    Yang ikhlas:

    Pencinta al-Qur'an, Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim,
    Nusantara.





    BalasHapus

© Official Blog of Aliansi Nasional Anti Syiah All rights reserved | Theme Designed by Seo Blogger Templates